Perum Bulog dan Badan Pangan Nasional Siap Kolaborasi Bahas Serius Terkait Teknologi Blockchain IPB University

Perum Bulog, IPB University dan Badan Pangan Nasional sepakat akan terus kolaborasi bahas serius teknologi block chain dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional. IPB University sebagai perguruan tinggi memiliki teknologi terkait efisiensi rantai pasok logistik pangan atau teknologi blockchain, sementara Perusahaan Umum Bulog merupakan operator dan didukung oleh Badan Pangan Nasional sebagai regulator. 

Hal tersebut disepakati dalam acara Webinar Program Studi Logistik Agro-Maritim, Sekolah Pascasarjana IPB University bertema “Membenahi Sistem Logistik Pangan Nasional untuk Menghadapi Ancaman Krisis Global”, 16/6. Dalam sambutannya, Rektor IPB University, Prof Arif Satria menyampaikan, ada persoalan yang berkaitan dengan logistik.  “Indonesia memiliki kontribusi besar setelah Arab Saudi terkait persoalan food loss and food waste. Kontribusi Indonesia dalam food waste dan food loss ada sekitar 300 kilogram per kapita per tahun, “ ungkap Rektor.

Melihat isu ini, lanjutnya, tentu menjadi persoalan serius.  Menurutnya persoalan ini muncul diantaranya karena adanya persoalan  pasca panen akibat pangan tercecer terbuang menjadi sampah, juga persoalan konsumsi. “Konteks pasca panen dan distribusi yang seharusnya bisa ditekan dengan adanya teknologi,  “ ujarnya.

Tidak hanya itu, Rektor juga menyampaikan, saat pandemi persoalan logistik dan distribusi menjadi persoalan krusial sehingga perlu desain, dalam rangka memformulasikan frame baru untuk menyelesaikan masalah logistik pangan di Indonesia. “Adanya kondisi perang Rusia dan Ukraina membuat  banyak negara mulai menahan produk pangannya seperti gandum ditahan Rusia, Malaysia menahan  produk ayam, Indonesia sempat  menahan ekspor sawit. Negara lain ada yang menahan produk kentang.  Kondisi ini menurutnya membuat kemandirian menjadi suatu keniscayaan. “Bukan semata-mata produktivitas, tapi masalah logistik, tandasnya.

Sehingga Indonesia akan membutuhkan formula yang berbasis teknologi dalam konteks produksi, lanjutnya.  “Juga pola logistik yang lebih efisien, lebih smart, lebih inklusif. Dengan forum ini tentu akan ada banyak ide baru dari berbagai pihak baik pemerintah, praktisi, bisnis, akademisi untuk menghasilkan solusi bersama, “ ucapnya.

Prof Anas Miftah Fauzi, Dekan Sekolah Pascasarjana IPB University menambahkan dua hal terkait konteks ketahanan pangan, yaitu ketersediaan pangan baik secara jumlah maupun mutu. Kedua, bagaimana aksesibilitasnya secara fisik maupun secara ekonomi.

Terkait teknologi Blockchain, Ketua Program Studi Logistik Agromaritim Pascasarjana IPB University, Prof Yandra Arkeman, menyampaikan Teknologi Blockchain terbukti banyak membantu proses rantai pasok dan sistem logistik yang sebelumnya secara konvensional masih banyak kekurangan, dengan teknologi blockchain ini dapat meningkatkan visibilitas dan traceability sistem logistik pangan nasional.  “Karakter akuntabilitas data pada blockchain dapat mengatasi permasalahan tracing event investigasi, insiden integrasi proses, sengketa, compliance dan distrust diantara semua pihak yang terlibat dalam rantai pasok dan sistem logistik, “ tuturnya.

Lebih lanjut dikatakannya, pada sistem logistik, blockchain dapat melakukan counterfeit product, untuk mencegah produk/barang palsu atau barang cacat  dan memonitor perishable product dalam suatu transaksi dan banyak keunggulan lainnya. “Jika kita tidak bergerak kita akan terus tertinggal, “ ucap Prof Yandra.

Narasumber lainnya adalah  Maino Dwihartono, Kepala Distribusi Cadangan Pangan – Badan Pangan Nasional yang menyampaikan terkait  strategi penguatan stok dan distribusi pangan strategis dan Mokhamad Suyamto selaku Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik – Perum Bulog yang menyampaikan terkait Peran Perum Bulog dalam menghadapi Ancaman Pangan Global. (*) Source : https://www.ipb.ac.id/news/